Senin, 17 September 2012

Kabut-Kabut yang Ku Baca pada Dinding Lemahnya [kini]


Perlahan tapi pasti ku coba mencari-cari apa keluhmu. Ku cari pelosok-pelosok yang sering Engkau singgahi. Ku coba mencari celah dalam semak yang hampir berduri itu. Semak yang dahulu penuh dengan warna keindahan, yang aku pun pernah menanaminya dengan bunga-bunga indah nan wangi. Semak yang mampu menyatukan keberagaman kita semua. Hingga tak jarang kita berebut untuk sampai kepadanya. Oh semak indah... Kenapa engkau sekarang mulai berduri? Perlahan mulai menusuk tukang-tukang kebunmu yang kuat itu. Oh Semak indah, dimana kah keindahanmu sekarang? Hingga telah lama ku tak mengunjungimu sekarang telah berubah menjadi semak yang telah berduri. Ku temukan luka dalam semakmu. Luka yang tak mampu lagi ku menjawabnya dengan logika sehat. Aku pun tak mampu untuk menjawabbnya, aku hanya mampu untuk melihatnya dari celah-celah kecil itu. Mata ini pun tak mampu melihatnya secara utuh. Tak mampu hati ini merasakan apa yang sedang aku alami. Sungguh aku tak mampu. Luka itu pun perlahan sampai pada dinding-dinding yang aku tau dinding itu terbuat dari beton yang sangat kuat. Terlihat kokoh dari kejauhan. Terlihat menawan ketika ku memandanginya dari kjauhan. Tak jarang aku pun mendengar teriakan-teriakan histeris dari para pengagumnya.
Kini ku tak mampu lagi mengartikan semuanya. Ku temukan coretan-coretan pada dinding yang telah terluka. Coretan-coretan indah hanya yang mampu di tulis pada dindingnya ternyata sekarang berubah menjadi coretan-coretan kegetiran. Coratan-coretan yang tak mampu lagi ku artikan. Begitu jelas membuat hati ini sesak, begitu jelas mebuat retina ini tak mampu mengelakaannya lagi, nafas ini pun tak mampu berirama bersama kicauan burung yang terasa amat merdu ketika terdengar. Terasa sebuah bongkahan batu besar menimpa kepalaku ini. Begitu berat ku rasa, membuat otak ini hancur tak bersisa. Wajarlah yang ku rasa otaku tak ada lagi yang bisa untuk berfikir realistis. Semua bertopang pada hati yang sudah ternoda ini. Hati ini tak mampu mengartikan. Hanya butiran-butiran peluh yang mampu mewakili semuanya..
Aku hanya bisa berdoa dalam setiap ibadahku, ya Alloh kuatkanlah dindiingnya, kuatkanlah ya Alloh, Dinding yang dulu kokoh berdiri melindungi. Aku tak mau dinding kokoh ini melemah. Ya Alloh hukumlah hambaMu ini dengan kasih sayangmu yang telah melemahkan dindingnya.
Aku berharap semua akan menjadi lebih baik. Aku ingin kabut-kabut mulai terkalah dengan sinarku.
Bismillahirohmanirohim... Ayoo Ayu pasti BISA !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar