Perlahan tapi
pasti ku coba mencari-cari apa keluhmu. Ku cari pelosok-pelosok yang sering
Engkau singgahi. Ku coba mencari celah dalam semak yang hampir berduri itu.
Semak yang dahulu penuh dengan warna keindahan, yang aku pun pernah menanaminya
dengan bunga-bunga indah nan wangi. Semak yang mampu menyatukan keberagaman
kita semua. Hingga tak jarang kita berebut untuk sampai kepadanya. Oh semak
indah... Kenapa engkau sekarang mulai berduri? Perlahan mulai menusuk
tukang-tukang kebunmu yang kuat itu. Oh Semak indah, dimana kah keindahanmu
sekarang? Hingga telah lama ku tak mengunjungimu sekarang telah berubah menjadi
semak yang telah berduri. Ku temukan luka dalam semakmu. Luka yang tak mampu
lagi ku menjawabnya dengan logika sehat. Aku pun tak mampu untuk menjawabbnya,
aku hanya mampu untuk melihatnya dari celah-celah kecil itu. Mata ini pun tak
mampu melihatnya secara utuh. Tak mampu hati ini merasakan apa yang sedang aku
alami. Sungguh aku tak mampu. Luka itu pun perlahan sampai pada dinding-dinding
yang aku tau dinding itu terbuat dari beton yang sangat kuat. Terlihat kokoh
dari kejauhan. Terlihat menawan ketika ku memandanginya dari kjauhan. Tak
jarang aku pun mendengar teriakan-teriakan histeris dari para pengagumnya.
Kini ku tak mampu
lagi mengartikan semuanya. Ku temukan coretan-coretan pada dinding yang telah
terluka. Coretan-coretan indah hanya yang mampu di tulis pada dindingnya
ternyata sekarang berubah menjadi coretan-coretan kegetiran. Coratan-coretan
yang tak mampu lagi ku artikan. Begitu jelas membuat hati ini sesak, begitu
jelas mebuat retina ini tak mampu mengelakaannya lagi, nafas ini pun tak mampu
berirama bersama kicauan burung yang terasa amat merdu ketika terdengar. Terasa
sebuah bongkahan batu besar menimpa kepalaku ini. Begitu berat ku rasa, membuat
otak ini hancur tak bersisa. Wajarlah yang ku rasa otaku tak ada lagi yang bisa
untuk berfikir realistis. Semua bertopang pada hati yang sudah ternoda ini.
Hati ini tak mampu mengartikan. Hanya butiran-butiran peluh yang mampu mewakili
semuanya..
Aku hanya bisa
berdoa dalam setiap ibadahku, ya Alloh kuatkanlah dindiingnya, kuatkanlah ya
Alloh, Dinding yang dulu kokoh berdiri melindungi. Aku tak mau dinding kokoh
ini melemah. Ya Alloh hukumlah hambaMu ini dengan kasih sayangmu yang telah
melemahkan dindingnya.
Aku berharap
semua akan menjadi lebih baik. Aku ingin kabut-kabut mulai terkalah dengan
sinarku.
Bismillahirohmanirohim...
Ayoo Ayu pasti BISA !!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar