Pelangi,
terbayang dalam benak kita seburat warna merah, seburat warna kuning, seburat
jingga dan seburat warna-warna yang lain. Begitu indah kita lamunkan dalam
angan kita. Angan syang selalu dapat menceritakan semua hal yang tak bida dalm
nyata kita temukan. Yah, hanya dalam benak.
Suatu ketika saat
ku mulai beranjak ke level umur kepada dua kurang angka 1, ku temukan fenomena
hidup yang tak biasanya aku jamah. Yah, di pagi buta ketika ku terbangun dari
angan mimpiku, ku buka jendela kamarku ketika cahaya-cahayaNya berusaha
mengintipku melalui celah-celah jendelaku. Akhirnya cahayanya pun tak lagi
penasaran untuk melihatku. Ku siapkan hati dan senyum ini untuk menyambut hari
pagi penuh ceria. Usai ku bertatapp muka dengan cahayaMu, cahaya terangMu yang
mampu memberikan asa pada umatMu. Yah, aku pun mendapatkan asa dari cahayaMu
ini. Asa-asaku mulai ku bangun kembali, asa-asa pagi buta yang masih membekas
karan mimpi-mimpiku dalam malammu. Asa yang bisa memberikan semangat bagiku.
Asa-asa yang kembalimemberikan semangat untukku ketika ku mulai merasa tak bisa
bersyukur atas anugerahmu. Yah, Asa dan asa yang akupunya saat ini.
Perlahan ku pandangi
dinding indahmu dengan penuh asa, penuh harapan, penuh impian, yang suartu saat
aku berharap dapat meraihnya. Dengan cermat, teliti, dengan sepenuh hati aku
memandang dindingmu, ku temukan keindahan-keindahan yang penuh dengan misteri,
keindahan-keindahan yang membuatku kagum, oh keindahan yang membuatku bahagia.
Belum setengah dinding ku pandangi, aku melihat dan merasakan dinding-dindingmu
yang begitu membuatku begitu pilu. Membuatku untuk berpikir keras agar dapat
mengartikannya. Begitu keras aku berusaha, apakah ini? Apakah? Apakah ini
Tuhan? Aku tak mampu mengartikannya, bukankah ini anugrahMu? Mengapa hambamu ini
tak mampu mengartikannya. Aku coba satu demi satu dari buratan-buratan indahMu
yang kini terasa sama itu ku artika. BuratanMu yang penuh dengan perbedaan
dalam keindahan itu ternyata membuatku begitu lemah. Aku tak mampu
mengartikannya Tuhan, aku tak mampu. Beribu langkah, beribu cara aku pikirkan
berharap mendapat secerca cahaya dari dindingmu yang awalnya penuh dengan
cahaya itu kini kelam tak berirama. Semua terasa gulita, semua terasa begitu
menusuk hati, terasa begitu memporak porandakan otak ini. Tuhan, aku tak mau
jiwa ini goyah karna cahayaMu itu. Aku tak mampu untuk mengartikannya Tuhan
Jiwa ini goyah, hati ini rapuh. Tuhan. Aku perlukan cahaya indahMu.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar