Sabtu, 22 September 2012

PelangiTak Berwarna


Pelangi, terbayang dalam benak kita seburat warna merah, seburat warna kuning, seburat jingga dan seburat warna-warna yang lain. Begitu indah kita lamunkan dalam angan kita. Angan syang selalu dapat menceritakan semua hal yang tak bida dalm nyata kita temukan. Yah, hanya dalam benak.
Suatu ketika saat ku mulai beranjak ke level umur kepada dua kurang angka 1, ku temukan fenomena hidup yang tak biasanya aku jamah. Yah, di pagi buta ketika ku terbangun dari angan mimpiku, ku buka jendela kamarku ketika cahaya-cahayaNya berusaha mengintipku melalui celah-celah jendelaku. Akhirnya cahayanya pun tak lagi penasaran untuk melihatku. Ku siapkan hati dan senyum ini untuk menyambut hari pagi penuh ceria. Usai ku bertatapp muka dengan cahayaMu, cahaya terangMu yang mampu memberikan asa pada umatMu. Yah, aku pun mendapatkan asa dari cahayaMu ini. Asa-asaku mulai ku bangun kembali, asa-asa pagi buta yang masih membekas karan mimpi-mimpiku dalam malammu. Asa yang bisa memberikan semangat bagiku. Asa-asa yang kembalimemberikan semangat untukku ketika ku mulai merasa tak bisa bersyukur atas anugerahmu. Yah, Asa dan asa yang akupunya saat ini.
Perlahan ku pandangi dinding indahmu dengan penuh asa, penuh harapan, penuh impian, yang suartu saat aku berharap dapat meraihnya. Dengan cermat, teliti, dengan sepenuh hati aku memandang dindingmu, ku temukan keindahan-keindahan yang penuh dengan misteri, keindahan-keindahan yang membuatku kagum, oh keindahan yang membuatku bahagia. Belum setengah dinding ku pandangi, aku melihat dan merasakan dinding-dindingmu yang begitu membuatku begitu pilu. Membuatku untuk berpikir keras agar dapat mengartikannya. Begitu keras aku berusaha, apakah ini? Apakah? Apakah ini Tuhan? Aku tak mampu mengartikannya, bukankah ini anugrahMu? Mengapa hambamu ini tak mampu mengartikannya. Aku coba satu demi satu dari buratan-buratan indahMu yang kini terasa sama itu ku artika. BuratanMu yang penuh dengan perbedaan dalam keindahan itu ternyata membuatku begitu lemah. Aku tak mampu mengartikannya Tuhan, aku tak mampu. Beribu langkah, beribu cara aku pikirkan berharap mendapat secerca cahaya dari dindingmu yang awalnya penuh dengan cahaya itu kini kelam tak berirama. Semua terasa gulita, semua terasa begitu menusuk hati, terasa begitu memporak porandakan otak ini. Tuhan, aku tak mau jiwa ini goyah karna cahayaMu itu. Aku tak mampu untuk mengartikannya Tuhan Jiwa ini goyah, hati ini rapuh. Tuhan. Aku perlukan cahaya indahMu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar